Senin, 25 Mei 2009

CINTAILAH CINTA

بسم الله الرحمن الرحيم
CINTA MUSLIM
NASEHAT BAGI IKHWAN YANG AKAN NIKAH
TO IKHWAN ONLY
Saudara se-muslim saya minta tolong renungkanlah baik-baik tulisan berikut ini, tulisan ini berasal dari lubuk sanubari saya yang paling dalam. Tulisan ini terukir dari kepingan-kepingan ilmu dan segudang pengalaman dalam hidupku, tulisan ini terukir sebagai nasehat bagi saudara semuslim

Tulisan ini tentang……..
Satu kata yang sering menjadi cita-cita hidup…
Satu kata yang sering menghiasi pembicaraan para ikhwan dan akhwat……
Satu kata yang sangat ringan di lisan namun sangat berat konsekuensinya……
Satu kata yang membuat darah ikhwan dan akhwat mendidih……….
Satu kata yang membuat imajinasi Qita terbang ke surga dunia……….
Satu kata yang sangat berbahagia bagi orang yang beruntung……
Dan satu kata yang sangat menyedihkan bagi orang yang tidak beruntung…..
Kata itu adalah……..
………………….. “NIKAH”…………………..…


تنكح المرءة لأربع لمالها ولنسابها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, karena nasab keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang memiliki pemahaman agama yang baik maka niscaya engkau akan bahagia”.
(HR. Bukhari 4970 dan HR. Muslim 3590)


Saudara… jangan maen-maen dengan hadits baginda Nabi diatas….
Taruhannya kebahagiaan atau kehancuran yang akan menyelimuti hidupmu….
Jika saudara salah dalam memilih pasangan hidup…………
Bener…….. nich! saya sudah pengalaman masalahnya……..
Lihat baik baik hadits diatas…
Pertama Nikahilah wanita karena hartanya….
Yahudi menikahi wanita karena harta semata….
Banyak buku, jangan nikahi wanita karena hartanya karena bla… bla… bla…
Beribu alasan………………. Betul… betul…. Betul…
Namun Qita jangan munafik… (Maap) bukankah suksesnya dakwah Nabi salah satu penyebabnya adalah bantuan moril dan materil KHODIJAH ….. HARTA KHODIJAH!
Nikah….. walimahan pake uang ….. istri sakit mau periksa pake uang ….. makan sehari-hari pake uang…. Bayar kontrakan pake uang…. Membahagiakan mertua dan keluarga istri pake uang…. Dakwah juga pake uang… Qita mu berangkat pengajian bensinnya khan beli… kitab-kitab para ulama’ kita khan beli…. Uang semua mas…. Nach kalo ente penghasilannya dikit… istri juga miskin… dijamin dech yang dulunya rajin ngaji setelah nikah jarang bahkan gak ada waktu buat ngaji…. Karena cari duit… lha kalo ente sibuk ngaji… penghasilan ente gak ada… istri juga miskin… dijamin tuh istri nangis sendiri di kontrakan karena belum makan dari pagi sampai petang…. Ente sibuk Ngaji….
Oleh karena itu kalo memang Saudara semuslim itu orang miskin… jangan munafiklah… Cari akhwat yang HARTA nya banyak… biar ente bisa ngaji dengan tenang… sukur istri bisa bantuin dakwah ente dengan hartanya…….. NIKAHILAH WANITA KARENA HARTANYA…. Apapun kata dunia…….. demi suksenya dakwah Qita….

Kedua Nikahilah wanita karena nasab keturunanya….
Bangsa Romawi kafir menikahi wanita karena nasabnya semata….
Nikahi wanita karena nasabnya semata katanya (dalam buku karangan Hanifah, Ummi, Mahmudah) adalah ciri pria yang gila hormat, sombong………………
Dan ribuan buku lainnya….. Jangan nikahi wanita karena Nasabnya semata….
Boleh…. Boleh…. Boleh…
Sekali lagi Qita jangan munafik….
Saudara semuslim…. Ente ngaji sudah ratusan bulan…. Ngaji sudah ratusan kitab… ente ngisi pengajian kesana-sini…. Tauhid, akidah, fiqih, tafsir ente kuasai semua… istri ente juga pakai cadar… hafidzoh… hafal Al Quran… ente dan istri anti bid’ah dan syirik…. Tapi sayang… ente numpang di rumah mertua… ternyata mertua ente mimpin tahlilan… yasinan… mertua ente dan ipar ente hobinya sinetron… dan filem-filem syirik… ente tinggal satu atap dengan mereka… semuanya mereka lakukan dihadapan mata ente…. Ente dakwahi mertua sayang… mertua ente pendengarannya gak jelas karena tua banget…. Dan mertua ente sulit menerima dakwah ente… ente ngomong dikit dimarahin dibilangin…. Anak kecil kok ngajarin orang tua.. kamu itu kencing saya…. (ente mu ngapain ah… ente khan miskin… jadi numpang di mertua…)
Boro-boro mertua ente bantuin tegaknya dakwah tauhid dan dakwah ahlus sunnah…..
Oleh karena itu… inget sabda baginda Nabi… cari tuh yang baik nasabnya… kalo bisa anaknya pimpinan pondok ahlus sunnah… biar ente bisa dakwah bersama mertua ente… enak khan…. Daripada perang terus dengan mertua… ente ahalut tauhid… mertua ente ahlul bid’ah hidupnya satu atap… weleh…weelehh…. Dijamin dech hati ente berkeping-keping….

Ketiga Nikahilah wanita karena kecantikannya….
Bangsa Persia kafir menikahi wanita karena kecantikannya semata…
Nikahi wanita karena Cantiknya semata katanya (dalam buku karangan Hanifah, Ummi, Mahmudah) adalah ciri pria yang memperturutkan hawa nafsu
Seorang pimpinan pondok di jogja marah-marah: “kalo ente hanya mau nikah dengan yang cantik-cantik. Bagaimana nasib akhwat-akhwat yang…. Lanjutin dech….. kasian khaaaannnn……….
Jangan…… jangan……. Nikah karena cantik semata……
Boleh…. Boleh…. Boleh…
Sekali lagi jangan munafik Mas…..
Wahai saudara semuslim… tanyakan fitrohmu….
Jujurlah… tanyakan hatimu yang paling dalam………..
Pagi…. Siang…. Sore…. Malem…. Ente tidur… dan hidup bersamanya….
Diluar sana ribuan setan-setan sexy bergentayangan…..
Kau laki-laki….
Aku juga laki-laki…..
Qita jangan munafik……
Banyak aku temukan ustadz-ustadz yang keilmuanya tinggi namun terhina gara-gara wanita…. Tidakkah dia cukup dengan istrinya…
Aku punya temen sudah lama ngaji…. Paham akidah ahlus sunnah…. Nikah… hari pertama nikah sudah sering meninggalkan istrinya.. maen-maen sama saya… karena istrinya tidak cantik…. Subhanallah….. mana sakinah…. Mana mawaddah… mana rohmahnya… katanya berilmu… ikhwan ngaji kok ninggalkan istri…. Tapi wajarlah…
Kalo istimu cantek… ente betah dirumah…
Ente lebih bisa ghodul bashor… gak dosa khan…..
Ente bisa semangat kerja cari nafkah…. Aku punya tmen ilmu ahlus sunnahnya tinggi dia ceraikan istrinya…. Ya gitu dech…. Katanya gak semangat kerja… ya wajarlah istrinya kaya kuburan he…………..


Keempat Nikahilah wanita karena agamanya…. Yang paling penting agamanya……….

Niscaya beruntung……… bener…….
Ente bahagia………… bener…. Kalo agamanya bener-bener bagus……
Tapi hati-hati ….. gak semua akhwat yang kelihatannya sholehah dia bener-bener sholehah……. Selektif aja……..
Banyak berdoa…..

Afwan…. Ana blak-blakan aja……..
Tulisan ini hanya untuk ikhwan……..
Insya Allah nasehat khusus untuk akhwat akan segera menyusul
Ya … blak-blakan juga…….
Mohon para akhwat maapkan saya jika tersinggung dengan tulisan ini…
Insya Allah tulisan berikutnya saya akan mengatakan:
Mohon para ikhwan maapkan saya jika tersinggung dengan tulisan ini…
Wallahu a’lam.

Penulis : Sukarta (Sukarta_mediu@yahoo.com) – HP. 081804143171
Jazakumullahu khairan atas komentar kritik dan saran.



Sabtu, 23 Mei 2009

METODE AL-BARQY

1. Metode Al-Barqy
Di SDIT Taruna Al Qur’an metode Al Barqy merupakan metode yang paling banyak mempengaruhi keberhasilan siswa dalam kemampuannya membaca Al-Qur’an dengan baik dan cepat.
Adapun penerapan metode Al Barqy di SDIT Taruna Al-Qur’an secara global adalah sebagai berikut:
Langkah pertama: guru meminta siswa untuk menghafalkan terlebih dahulu beberapa kata kunci dalam metode Al-Barqy. Kata kunci tersebut merupakan struktur yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyah
Contohnya: ADA RAJA – MAHA KAYA – KATA WANA – SAMA LABA. (Halaman 1-6 dalam buku Al Barqy) Guru membacakan kata-kata kunci tersebut dengan cara menyanyikannnya kemudian diikuti oleh peserta didik. Sehingga peserta didik di SDIT Taruna Al-Qur’an merasa belajar Al-Quran sangat menyenangkan dengan cara bermain, bernyayi sambil belajar.
Langkah kedua: setelah peserta didik sudah mampu menghafalkan kata-kata kunci tersebut, kemudian guru menuliskannya di papan tulis.
Contohnya : ا د ر ج م ح ك ي ك ت و ن س م ل ب
Selanjutnya guru meminta siswa untuk membacakan huruf-huruf tersebut, karena sebelumnya peserta didik sudah menghafalkan kata kunci, maka huruf-huruf hijaiyyah yang dituliskan guru mampu dibaca peserta didik dengan sangat lancar sambil menyayikannya.
Langkah ketiga : guru meminta siswa untuk menuliskan kata-kata kunci tersebut dengan huruf hijaiyah. Sebagai permulaan guru meminta siswa mengikuti contoh tulisan huruf tersebut (Halaman 1-6 dalam buku Al-Barqy) selanjutnya guru meminta siswa menutup buku Al-Barqy dan membuka lembaran baru yang kosong kemudian guru menyebutkan salah satu huruf dengan acak dan siswa menuliskannya di lembaran kosong dengan cara guru mendikte dan siswa menulis sambil menyebutkan huruf yang ditulisnya berulang kali sampai hafal.
Langkah keempat : guru meminta siswa satu persatu untuk membaca huruf-huruf tersebut dengan cara guru menunjukan huruf-huruf tersebut dengan tidak teratur. Contohnya : س ج م ح ك ا ي ك و د ن م ل ب ت ر 43
Penerapan metode Al-Barqy di SDIT Taruna Al-Quran secara spesifik dan rinci adalah sebagai berikut:
1). Fase Analitik A:
a). Guru mengucapkan kata lembaga (struktur) pada halaman 1 lajur A, yaitu : ا د ر ج (tidak boleh dieja), murid menirukan sampai hafal. Untuk lebih menarik, murid disuruh memejamkan mata, lalu mengucapkan kata lembaga dan menghafal. (Setelah ini, murid memiliki pengetahuan tersedia, dan guru tinggal mendorong saja, yang seolah-olah tanpa mengajar lagi)
b). Murid disuruh mengucapkan kata lembaga yang telah hafal tadi dan melihat papan tulis yang tersedia tulisan seperti pada halaman 1 pada buku Al Barqy (lebih baik membawa tulisan pada karton yang tinggal menempelkan pada papan tulis atau turunan dari halaman 1)
c). Ketika anak mengucapkan kata lembaga (a-da-ra-ja), maka guru menunjuk pada suku-suku kata dari kata lembaga tersebut yang telah terpampang di papan tulis.
d). Begitu berulang-ulang, kadang-kadang cepat dan kadang-kadang lambat.
2). Fase Analitik B:
a). Kata lembaga dibagi dua, yaitu a-da dan ra-ja (lihat lajur B pada Buku Al Barqy)
b). Guru menunjuk dua suku kata saja, yaitu a-da. Begitu berulang-ulang dan dibolak-balik, yaitu a-da, da-a, dan seterusnya. Begitu pula dua suku yang lain, yaitu ra-ja, ja-ra, dst.
c). Kata lembaga dibagi dalam tiap-tiap suku kata, yaitu : a, da, ra, dan ja (lihat lajur C)
d). Lajur D untuk mematangkan anak, pada bunyi tiap-tiap huruf, yaitu a-a-a, da-da-da, ra-ra-ra, ja-ja-ja.
e). Guru mengadakan evaluasi, yaitu dengan menunjuk huruf tertentu dan anak mengucapkannya.
f). Membaca huruf-huruf yang disambung dan dibolak-balik (lihat lajur E)
3). Fase Sintetik
Yaitu satu huruf (suku) digabung dengan suku yang lain, sehingga berupa suatu bacaan (lajur F).
Keterangan : Begitulah kata lembaga yang lain diperlukan.
a). Jumlah kata lembaga hanya 4 (empat), yaitu :
A-DA-RA-JA = pada halaman 1
MA-HA-KA-YA = pada halaman 2
KA-TA-WA-NA = pada halaman 5
SA-MA-LA-BA = pada halaman 6
b). Tiap dua kata lembaga diajarkan (dimana dua kata lembaga itu merupakan rangkaian kalimat untuk memudahkan menghafalkan), maka dibuat sintesa berupa bacaan (lihat halaman 3 dan 7 pada buku metode Al Barqy )
Halaman 3 diambil dari dua kata lembaga, yaitu
A-DA –RA-JA MA-HA-KA-YA
Halaman 7 diambil dari dua kata lembaga, yaitu
KA-TA-WA-NA SA-MA-LA-BA
4). Fase Penulisan
a). Murid menebali tulisan yang samar-samar, seperti ا د ر ج dengan pensil
b). Guru menunjukkan jalan pena menurut arah panah, jangan sampai terbaik.
c). Setelah dianggap baik, anak menulis dikertas lain (lihat halaman 1, 2, 5, 6, 13, 14, 17, 18 pada lajur J dan halaman 4, 8, 16, 20 pada lajur B, D, F, H)
d). Pada lajur J dikenalkan beberapa variasi bentuk huruf.
ححح – ممم – ععع
5). Fase Pengenalan Bunyi a – i – u (fathah, kasroh, dhommah)
Di SDIT Taruna Al-Quran dalam mengenalkan bunyi dan tanda-tanda tersebut melalui tiga tahap, yaitu :
Tahap Pertama :
adaraja – mahakaya – katawana – samalaba
idiriji – mihikiyi – kitiwini – similibi
uduruju – muhukuyu – kutuwunu – sumulubu
Tahap Kedua :
adaraja – idiriji – uduruju
Tahap Ketiga :
a – i – u ; da – di – du; ja – ji – ju dan seterusnya (lihat halaman 9)
6). Fase Pemindahan
Di SDIT Taruna Al-Quran Untuk memudahkan pengenalan bunyi Arab yang sulit, maka didekatkan dengan bunyi-bunyi bahasa Indonesia yang berdekatan. Yaitu ditulis diatas bunyi huruf bahasa Indonesia, misal د , maka dibawahnya ditulis ذ, dan diatas ditulis س dibawahnya ditulis ش dengan anak panah menurun (lihat halaman 13, 14, 17, 18 pada lajur A dan B).


7). Fase Pengenalan Tanwin
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan huruf-huruf Tanwin guru menggunakan istilah akhiran N untuk mempermudah siswa memahami. Harakat ganda berbunyi n atau menggunakan istilah akhiran N (tanwin). Perlu diingatkan, bahwa tanwin itu hanya ada pada suku terakhir dari kata. Jadi tak ada yang diawali atau ditengah (halaman 11, 12, dan 21)
8). Fase Pengenalan Mad (bacaan panjang)
Di SDIT Taruna Al-Qur’an Pada pengenalan Mad didahulukan sebelum sukun. Ia harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum sukun dan syaddah. Untuk sementara agar memudahkan anak, diatas bacaan panjang diberi tanda (**) dan tanda pendek diberi tanda (*).
Dalam latihan atau pekerjaan rumah, anak disuruh memberi tanda bacaan tersebut pada kalimat atau ayat. Jika benar, berarti anak sudah mengerti, mana yang harus dibaca panjang dan mana yang harus dibaca pendek (halaman 24, 25 dan 28).
9). Fase Pengenalan Sukun
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan sukun guru memberikan contoh dengan cara melaui logika titian unta. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 29, 30, 34, 35 pada buku Al Barqy.
Cara mengenalkan sukun dengan membuat titian unta, yaitu :
SA-BA berubah menjadi SA+B=SAB
(halaman 29, 30 dan 34, 35) pada halaman 33 dibuat latihan membaca untuk mefasihkan tiap huruf (drill). Dapat dilagukan seperti membaca Al Quran (halaman 36 dan 37).
10). Fase Pengenalan Syaddah
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan syaddah guru memberikan contoh. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 41 pada buku Al Barqy.
Untuk mempermudah siswa dibuat titian unta seperti pada sukun
Contohnya : MA+S+SA=MASSA
11). Fase Pengenalan Nama Huruf
Di SDIT Taruna Al-Qur’an Nama-nama huruf dikenalkan. Cara mengenalkan atau membaca nama huruf harus dengan al. Jadi al-ba’ bukan hanya ba’, al-jim. Hal ini untuk segera dapat membedakan mana yang Qomariyyah dan mana yang Syamsiyyah (halaman 46). Pada halaman 47 dan 48 dibuat latihan.
12). Fase Pengenalan Qashidah Huruf Hijaiyyah
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan Qashidah huruf-huruf hijaiyah. guru memberikan contoh. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 51 pada buku Al Barqy. Dibaca dengan lagu hingga anak mudah menghafal.
13). Fase Pengenalan Huruf yang tidak dibaca atau dilewati
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan tidak dibaca guru memberikan contoh. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 50 pada buku Al Barqy.
Huruf yang tidak mendapat tanda aksi (harakat) tidak dibaca.
Biasanya : ا – ل – و – ي
14). Fase Pengenalan Bacaan yang Musykil
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan bacaan yang musykil guru memberikan contoh bacaan yang musykil. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 52 pada buku Al Barqy.
15). Fase Pengenalan Huruf-huruf Putus
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan huruf-huruf putus guru memberikan contoh tulisan cara memutus huruf. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya. Sebagaimana pada halaman 53 pada buku Al Barqy.
16). Fase Pengenalan Waqaf
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan tanda-tanda wakof guru memberikan menuliskan dan memberikan contoh sebagaimana pada halaman 54 buku Al-Barqy.
17). Fase Pengenalan Tajwid Sederhana (halaman 55)
Di SDIT Taruna Al-Quran guru menggunakan simbol-simbol tajwid dengan praktis sebagaimana yang terdapat dalam buku Al-Barqy halaman 55.
18). Fase Pengenalan Menyambung
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan huruf sambung guru memberikan contoh tulisan cara menyambung huruf. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya.
Untuk dapat menyambung, hanya diperlukan menghafal 5 kunci menulis (halaman 60). Sedangkan teknik penyambungan lihat halaman 61.
19). Fase Pengenalan Bentuk Tulisan Hamzah, (halaman 62)
Di SDIT Taruna Al-Qur’an dalam mengenalkan bentuk tulisan hamzah guru memberikan contoh penulisan hamzah di awal kalimat, ditengah kalimat dan di akhir kalimat. Kemudian siswa SDIT Taruna Al-Quran mengikutinya.
43 Hasil wawancara dengan pengasuh program pembelajaran Al-Quran di SDIT T. A. pada tanggal 30 April 2009.

ARTI SEBUAH CINTA

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya dari shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: “Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik rahimahullah:
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam Cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.

http://http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=128

HATI-HATI DALAM MENCINTAI

Penulis: Abu Yazid Muhammad Nurdin
Hampir setiap muslim memahami bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Namun sayangnya, masih sedikit yang faham tentang hakikat dan perinciannya. Perlu pembaca ketahui, syirik tidaklah terbatas pada menyembah patung, pohon, batu atau kuburan belaka. Tetapi lebih luas lagi, syirik mencakup segala aktivitas yang seharusnya khusus ditujukan hanya kepada Alloh saja namun dipalingkan kepada selain-Nya. Kita memohon kepada Alloh semoga lembaran-lembaran ini bermanfaat untuk menambah ilmu kita agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang gelap kesyirikan.
Semua Makhluk Adalah Hamba Alloh
Pembaca yang budiman, tidak ada seorang pun di antara makhluk Alloh melainkan dia adalah hamba Alloh. Ada dua jenis penghambaan. Hamba Alloh secara kauni yaitu hamba yang hanya tunduk kepada hukum-hukum kauni (takdir) dan hamba Alloh secara syar’i yaitu hamba yang tunduk kepada hukum-hukum syar’i (Islam) di samping tunduk secara kauni. Alloh berfirman yang artinya, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93). Hamba dalam ayat tersebut maksudnya adalah hamba secara kauni. Adapun firman Alloh yang artinya, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon: 63), maka yang dimaksud dengan hamba dalam ayat ini adalah hamba secara syar’i.
Penghambaan Kepada Selain Alloh Adalah Syirik
Karena penghambaan merupakan hak yang khusus diperuntukkan hanya bagi Alloh, maka setiap penghambaan kepada selain Alloh merupakan kesyirikan. Alloh berfirman yang artinya, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) memohon kepada Alloh, Tuhannya, seraya berkata, ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sholih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’. Tatkala Alloh memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’rof: 189-190). Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’diy rohimahulloh berkata, “Sesungguhnya orang yang dianugerahi keturunan yang sehat jasmaninya bahkan agamanya oleh Alloh, wajib mensyukuri nikmat Alloh tersebut. Mereka tidak menamakan anak-anaknya dengan nama yang diperhambakan kepada selain Alloh. Mereka juga tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Alloh. Karena hal tersebut merupakan bentuk-bentuk kufur nikmat dan dapat membatalkan tauhid.” (Al Qoul As Sadid).
Penamaan Dengan Kata ‘Abdu dan Amatu
Tidak boleh (haram hukumnya) bagi seseorang menamakan diri atau anak-anaknya dengan nama yang mengandung unsur penghambaan kepada selain Alloh. Misalnya, ‘Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), ‘Abdu Syams (hamba matahari), ‘Abdur Rosul (hamba Rosul), ‘Abdu Manaf (hamba Manaf), ‘Abdul Muttholib (hamba Muttholib), ‘Abdu Manat (hamba Manat), ‘Abdul ‘Uzza (hamba ‘Uzza), ‘Abdul Husain (hamba Husain), ‘Abdus Sayyid (hamba Sayyid Al Badawi), dan lain-lain. Adapun penamaan ‘Abdul Mutthalib, para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya. Yang mengatakan boleh, mereka berdalil dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika perang Hunain, “Aku adalah cucu ‘Abdul Mutthalib.” (HR. Al Bukhari). Ini menunjukkan bolehnya penamaan seperti itu. Namun yang lebih rojih (benar/kuat) adalah penamaan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut tidak menunjukkan sama sekali bolehnya hal itu karena konteks hadits adalah pernyataan semata, bukan perintah.
Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh berkata, “Para ulama sepakat bahwa menceritakan kekufuran tidaklah menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Maksudnya ketika Rosululloh menyatakan dirinya “Aku adalah cucu ‘Abdul Muttholib” bukan berarti Rosululloh menganjurkan agar memberi nama dengan nama tersebut. Dan juga tidak ada sahabat yang menamakan diri mereka atau anak-anak mereka dengan nama ‘Abdul Muttholib.” (Al Qoul Al Mufid). Hal ini disebabkan mereka memahami tauhid dengan sempurna, yaitu bahwasannya menyambung nama ‘Abdu dengan nama selain nama-nama Alloh merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Seharusnya seseorang menamakan dirinya atau anak-anaknya (jika yang diinginkan berupa makna penghambaan) dengan ‘Abdulloh, ‘Abdurrohman, ‘Abdul ‘Aziz, ‘Abdus Shomad, ‘Abdul Qodir, ‘Abdurrouf, ‘Abdul Malik, dan sebagainya. Atau jika dia wanita, maka Amatulloh, Amaturrohman, Amatul ‘Aziz, Amatul Ghofur, dan seterusnya, bisa menjadi alternatif.
Bentuk-Bentuk Kesyirikan Dalam Hal Anak
Benarlah firman Alloh yang artinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghobun: 15). Betapa banyak orang sekarang yang terfitnah (diuji) dengan harta dan anak? Gara-gara anak ternyata orang tua bisa terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Di antara contohnya:
Jika orang tua berkeyakinan bahwa yang menjadikan anaknya lahir ke dunia adalah Wali Fulan atau Kyai Fulan, maka ini termasuk syirik akbar (besar) karena telah menyandarkan penciptaan kepada selain Alloh. Contohnya: Seorang wanita yang sudah lama berumah tangga namun sang bayi dambaan tidak kunjung lahir. Lalu ia mendatangi kuburan wali tertentu yang dianggap (baca: belum tentu) wali Alloh, sambil meminta, “Wahai Wali Fulan, beri saya anak!” Inna lillah wa inna ilaihi roji’un.
Jika orang tua menyandarkan keselamatan lahir anaknya kepada dokter, bidan atau dukun bayi, maka ini termasuk syirik asghor (kecil) karena telah menyandarkan nikmat kepada selain Alloh. Mereka hanya mengingat sebab (dokter/bidan), namun melupakan yang menciptakan sebab (Alloh ‘Azza wa Jalla).
Jika orang tua lebih mencintai anaknya daripada mencintai Alloh dan Rosul-Nya, maka ini termasuk syirik dalam cinta. Sebagaimana Alloh mensifati orang-orang musyrik yang mencintai sesembahan-sesembahan mereka dengan firman-Nya yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.” (QS. Al Baqoroh: 165)
Pembaca yang budiman, itulah syirik yang terkadang luput dari perhatian kita. Ternyata, di samping sebagai dosa terbesar, syirik bisa menyerang seluruh sendi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat mengherankan jika ada orang yang mengatakan, “Belajar tauhid tidak perlu banyak-banyak!!” atau “Kita tidak perlu membahas syirik pada zaman sekarang ini!!” Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Wallohu a’lam
http://www.muslim.or.id